
Kamboja Target 7 Juta Wisatawan Internasional 2025: Strategi Baru Pariwisata Pasca-Pandemi
Kebangkitan Pariwisata Kamboja
Kamboja, negara Asia Tenggara yang terkenal dengan Angkor Wat sebagai ikon warisan dunia UNESCO, resmi menargetkan 7 juta wisatawan internasional pada tahun 2025. Angka ini menandai kebangkitan besar pariwisata pasca-pandemi COVID-19, sekaligus ambisi Kamboja untuk kembali menjadi salah satu destinasi utama di kawasan ASEAN.
Pada tahun 2020–2021, pariwisata Kamboja mengalami kemerosotan tajam akibat pandemi. Namun, sejak 2023, jumlah wisatawan mulai meningkat seiring dengan pemulihan global. Tahun 2024, Kamboja mencatat sekitar 5 juta kunjungan internasional, sehingga target 2025 dipandang realistis dengan strategi yang tepat.
Strategi Pemerintah untuk Capai Target
◆ Digitalisasi Pariwisata
Kamboja meluncurkan aplikasi resmi pariwisata yang menyediakan layanan e-visa, informasi destinasi, hingga rekomendasi hotel. Wisatawan internasional kini bisa mengakses layanan dengan lebih mudah dan cepat.
◆ Promosi Budaya
Selain Angkor Wat, Kamboja aktif mempromosikan kekayaan budaya lain seperti tarian tradisional Apsara, kuliner khas Khmer, serta festival lokal. Pariwisata berbasis budaya ini menjadi daya tarik utama untuk wisatawan dari Eropa dan Asia.
◆ Pembangunan Infrastruktur
Bandara internasional baru di Siem Reap yang diresmikan pada akhir 2024 menjadi salah satu kunci. Dengan kapasitas lebih besar, bandara ini siap menerima jutaan wisatawan tambahan. Jalan raya dan transportasi publik juga ditingkatkan untuk mendukung akses ke destinasi populer.
◆ Wisata Berkelanjutan
Kamboja menekankan pengembangan pariwisata hijau. Program pelestarian hutan, pengelolaan sampah di kawasan wisata, dan keterlibatan komunitas lokal menjadi prioritas.
Destinasi Unggulan Kamboja
◆ Angkor Wat
Sebagai kompleks candi Hindu-Buddha terbesar di dunia, Angkor Wat tetap menjadi magnet utama. Pemerintah kini membatasi jumlah pengunjung harian untuk menjaga kelestarian situs ini.
◆ Phnom Penh
Ibu kota Kamboja menawarkan kombinasi sejarah, arsitektur kolonial Prancis, dan kehidupan malam yang semakin ramai. Museum Tuol Sleng dan Killing Fields juga menarik wisatawan yang tertarik pada sejarah modern Kamboja.
◆ Sihanoukville dan Pulau Tropis
Kawasan pantai Kamboja kini bersaing dengan Thailand dan Vietnam. Pulau-pulau seperti Koh Rong dan Koh Rong Samloem menawarkan keindahan pantai tropis yang masih alami.
◆ Ekowisata di Mondulkiri
Provinsi pegunungan Mondulkiri menawarkan wisata alam yang berbeda, dengan air terjun spektakuler, trekking hutan, dan konservasi gajah yang dikelola komunitas lokal.
Dampak Ekonomi dan Sosial
◆ Kontribusi terhadap PDB
Pariwisata menjadi salah satu penyumbang terbesar PDB Kamboja, mencapai lebih dari 12%. Dengan target 7 juta wisatawan, kontribusi ekonomi diharapkan meningkat signifikan.
◆ Lapangan Kerja
Industri ini menciptakan ratusan ribu lapangan kerja, mulai dari sektor transportasi, hotel, restoran, hingga pemandu wisata.
◆ Tantangan Keberlanjutan
Kamboja menghadapi risiko over-tourism, terutama di Angkor Wat. Pemerintah berusaha mengatasi masalah ini dengan diversifikasi destinasi agar tidak semua wisatawan terpusat di satu lokasi.
Reaksi Internasional
Target ambisius Kamboja disambut positif oleh pelaku industri pariwisata regional. Banyak agen perjalanan internasional memasukkan Kamboja dalam paket wisata Asia Tenggara bersama Thailand, Vietnam, dan Laos.
Namun, ada juga kekhawatiran tentang kesiapan infrastruktur, terutama di luar kota besar. Tantangan kebersihan, transportasi, dan kualitas layanan masih menjadi PR besar.
Kesimpulan: Kamboja di Jalur Bangkit
Dengan target 7 juta wisatawan internasional, Kamboja menegaskan komitmennya untuk menjadi salah satu pusat pariwisata Asia Tenggara. Strategi digitalisasi, promosi budaya, dan wisata berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan.
Jika berhasil, Kamboja bukan hanya akan memulihkan pariwisatanya, tetapi juga mengangkat kesejahteraan masyarakat lokal sekaligus memperkuat posisinya di kancah global.
Referensi: